Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara
Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah
berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata,
“Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa
tapi tidak dikabulkan?”
Beliau menjawab,
يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي
عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ،
الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ:
ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ:
ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ
نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ
النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ
الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ
بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ
نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ
وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ
“Wahai
penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,
Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak
menunaikan hak-Nya.
Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian
tidak mengamalkannya.
Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah
shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi
kalian mencocokinya.
Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai
surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.
Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari
neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.
Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah
benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.
Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib
saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.
Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb
kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.
Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang
mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul
Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm
no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan
Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329.]
Contoh dari Lembaran Kaum Salaf Menjaga
Keikhlasan
Al-Qâdhi ‘Alâ`uddin Ibnul Lahhâm berkata, “Pada
suatu saat, Syaikh (Ibnu Rajab Al-Hanbaly) menyebutkan sebuah masalah kemudian
beliau sangat meluas dalam (menjelaskan)nya. Saya sangat kagum terhadap beliau
dan penguasaan beliau yang sangat kuat terhadap masalah itu. Setelah itu,
terjadi (pembahasan) masalah tersebut dihadiri oleh pembesar-pembesar dari
berbagai madzhab, dan (Ibnu Rajab) tidak berucap satu kalimat pun. Begitu (Ibnu
Rajab) berdiri, saya berkata kepadanya, ‘Bukankah engkau telah
menjelaskan (masalah tersebut) dengan pembicaraan (yang telah lalu)?’ (Ibnu
Rajab) menjawab, ‘Saya hanya berbicara pada hal yang saya harapkan pahalanya,
dan sangat khawatir untuk berbicara dalam majelis ini.’…” [Dzail ‘Alâ Dzail
Thabaqât Al-Hanâbilah karya Ibnul Mibrad hal. 39, dengan perantara beberapa
sumber.]
Menghadapi Orang Jahil
Imam Asy-Syafi’iy berkata,
يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ …
فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا
يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا … كَعُوْدٍ
زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا
“Orang
jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan
Akupun enggan untuk menjawabnya
Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin
bertambah kesabaran
Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar
kewangian.” [Diwân Imam Asy-Syâfi’iy]
Nikmat Membawa Petaka
Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata,
كُلُّ
نِعْمَةٍ لا تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap
nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah
ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
Tiga Pokok Keimanan
‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
عَمَّارٌ
ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ،
وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ
“Ada
tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan
keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak
bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan
Al-Baihaqy]
Di Atas Sunnah Adalah yang Terbaik
Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berkata,
اقْتِصَادٌ
فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ
“Hemat
dalam suatu sunnah adalah lebih baik dari bersungguh-sungguh dalam suatu
bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarâny]
Ucapan ‘Saya Tidak Tahu’
Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu
berkata,
الْعِلْمُ
ثَلَاثَةٌ: كِتَابٌ نَاطِقٌ، وَسُنَّةٌ مَاضِيَةٌ، وَلَا أَدْرِيْ
“Ilmu
ada tiga: Kitab (Al-Qur’an) yang berbicara, Sunnah (Nabi) yang terus berlaku,
dan (upacan) ‘saya tidak tahu’.” [I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim]
Yang Menghancurkan Agama
Dari Ziyâd bin Hudair, beliau berkata, Umar bin
Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang
menghancurkan (agama) Islam?” Saya menjawab, “Tidak.” Umar radhiyallahu ‘anhu
berkata,
يَهْدِمُهُ
زَلَّةُ الْعَالِمِ، وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ، وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ
الْمُضِلِّينَ
“(Agama
Islam) dihancurkan oleh ketergelinciran seorang alim, jidal kaum munafiqin
dengan Al-Qur’an, dan hukum para pemimpin yang sesat.” [Diriwayatkan oleh
Ad-Darimy dan selainnya]
Hakikat Takwa
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhumâ berkata,
لَا
يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ التَّقْوَى حَتَّى يَدَعَ مَا حَاكَ فِي الصَّدْرِ
“Tidaklah
seorang hamba mencapai hakikat takwa hingga dia meninggalkan apa yang berseteru
dalam hatinya.” [Disebutkan oleh Al-Bukhary dalam Shahihnya secara Mu’allaq]
Dari Bagian Keimanan
Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berkata,
الصَّبْرُ
نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ
“Sabar
adalah seperdua keimanan, dan Yakin adalah keimanan seluruhnya.” [Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikhnya sebagaimana dalam Taghlîq At-Ta’lîq,
dan Al-Hakim]
Lisanku Ini yang Telah Menyeretku kepada
Berbagai Prahara
Suatu hari, Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu
‘anhu masuk menjumpai Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhu, dan Abu Bakr sedang menarik
lisannya. Umar berkata, “Ada apa? Semoga Allah mengampunimu.” Abu Bakr
menjawab,
إِنَّ
هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ
“Sesungguhnya
(lisan) ini telah menyeretku ke berbagai prahara.” [Diriwayatkan oleh Malik
dalam Al-Muwaththa` dengan riwayat Yahya bin Yahya]
Rasa Malu di Kalangan Shahabat
Abu Bakr Ash-Shiqqîq radhiyallâhu ‘anhu
berkhutbah kepada manusia,
يَا
مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
إِنِّي لَأَظَلُّ حِينَ أَذْهَبُ إِلَى الْغَائِطِ فِي الْفَضَاءِ مُتَقَنِّعًا
بِثَوْبِي اسْتِحْيَاءً مِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai
kaum muslimin sekalian, malulah kalian kepada Allah. Demi (Allah) yang jiwaku
berada di tangan-Nya, sungguh saya pergi membuat hajat di tanah lapang (tempat
membuang hajat) dalam keadaan berkudung baju karena malu kepada Rabbku ‘Azza wa
Jalla.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]
Kalimat-kalimat Indah di awal Pemerintahan
Abu Bakr
Setelah terangkat menjadi Khalifah, Abu Bakr
Ash-Shiqqîq radhiyallahu ‘anhu berkhutbah,
“Amma Ba’du, Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya saya telah dijadikan pemimpin terhadap kalian, sedang saya bukan
orang yang terbaik di antara kalian. Apabila saya berbuat baik, bantulah saya.
Apabila saya berbuat jelek, luruskanlah saya. Kejujuran adalah amanah dan dusta
adalah khiyanat. Orang yang lemah di tengah kalian adalah kuat di sisiku hingga
saya memberikan haknya, insya Allah. Orang yang kuat di tengah kalian adalah
lemah di sisiku hingga saya mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu
kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan memukul mereka dengan
kehinaan. Tidaklah suatu kekejian tersebar di suatu kaum kecuali Allah akan
meratakan mereka dengan bala. Taatilah saya selama saya menaati Allah dan
Rasul-Nya. Apabila saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak ketaatan
untukku terhadap kalian…” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dalam As-Sîrah]
Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya,
Imam Al-Muzany
Imam Al-Muzany bercerita:
“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau
wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”
Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan
perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk
gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan
amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya
ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur
kesedihannya.”
Aku berkata, “Nasihatilah aku.”
Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah
kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara
kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah.
Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia
haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau
bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap
kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan
bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir,
dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu,
sambunglah (silaturrahmi dari) orang yang memutus silaturahmi terhadapmu,
berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah
terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan
ketakwaan.”
Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah
lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu,
kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang
adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata
percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa
harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai
pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai
pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu,
dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah
kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai
juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu.
Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”
Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya
ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,
Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk,
wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang
yang bergelimang dosa
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala
jalanku
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga
bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala
dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu
-wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus
menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan
pemuliaan
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun
ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis
bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan
kesayangan-Mu, Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah
memaafkan
seorang yang congkak, zhalim lagi
sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa
Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku
berputus asa,
walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam
Jahannam lantaran dosaku
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,
namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi
dan lebih besar
[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]
Nasehat untuk Yang Meremehkan Dosa
Bilâl bin Sa’d rahimahullâh berkata,
لَا
تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah
engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah terhadap siapa engkau
bermaksiat.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Dari Yahya bin Abi Katsîr rahimahullah, beliau
berkata,
لَا
يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Ilmu
itu tidaklah didapatkan dengan jasad yang santai.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Sebab yang Menurunkan dan Mengangkat Musibah
Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallâhu ‘anhu,
beliau berkata,
مَا
نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إِلَّا بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah
petaka turun, kecuali karena dosa, dan tidaklah petaka diangkat, kecuali dengan
taubat.” [Ad-Dâ` wa Ad-Dawâ` hal. 118]
Musibah pada Kendaraan dan Istri Karena
Maksiat
Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyâdh,
إِنِّي
لأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي وَجَارِيَتِي
“Sesunggunya
aku bermaksiat kepada Allah, hal tersebut aku ketahui (pengaruh jeleknya) dari
akhlak kendaraan dan istriku.” [Shaidul Khâthir karya Ibnul Jauzi dan Al-Jawâb
Al-Kâfi karya Ibnul Qayyim]
Allah Menyiksamu Karena Menyalahi Sunnah
Imam Para Tabi’in, Sa’id bin Musayyab
rahimahullah melihat seorang melakukan shalat sunnah dua raka’at setelah shalat
subuh, kemudian Sa’id melarangnya. Orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad,
apakah Allah menyiksaku karena suatu shalat?!” Sa’id menjawab,
لَا
وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ
“Tidak,
tapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah.” [Diriwayatkan oleh
Abdurrazzaq, Ad-Darimy dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam
Al-Irwâ` 2/236]
Di Antara Petaka Dosa
Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
إِنَّ
لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي
الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ، وَإِنَّ
لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ،
وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ
الْخَلْقِ
“Sesungguhnya
pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam
rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada
kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati,
kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati
makhluk.” [Al-Jawâb Al-Kâfy hal. 62]
Takwa adalah Jalan Keselamatan dari Fitnah
Dalam menghadapi fitnah, Thalq bin Habib
menasihatkan agar berlindung dengan ketakwaan. Ketika ditanya, “Apa takwa itu?”
Beliau menjawab,
العَمَلُ
بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكُ
مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Takwa
adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, mengharap
rahmat Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah,
takut akan siksaan Allah.” (Siyâr A’lam An-Nubalâ` dan selainnya)
Keberkahan Pada Ucapan Ulama Salaf
Ditanyakan kepada Hamdûn bin Ahmad Al-Qashshâr,
“Mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Hamdûn menjawab, “Karena mereka berbicara untuk
keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) ridha Ar-Rahman.
Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan
penerimaan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan
Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân]
Panah-Panah Kematian
Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintah nasihat
ringkas, Abul ‘Atâhiyah menasihatinya dalam beberapa untaian syair,
لَا
تَأْمَنِ الْمَوْتَ فِيْ طَرْفٍ وَلَا نَفَسٍ … وَلَوْ تَمَنَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَسِ
وَاعْلَمْ
بَأَنَّ سِهَامَ الْمَوْتِ قَاصِدَةٌ … لِكُلِّ مَدَرَّعٍ مِنَّا وَمُتَرَّسِ
تَرْجُو
النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا … إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ
“Janganlah merasa aman dari
kematian dalam sekejam maupun senafas
walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal.
Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik
setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.
Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh
jalan-jalannya,
sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering.”
[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 285]
Sunnah Allah Pada Suatu Kebenaran
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَالْحَقُّ
مَنْصُوْرٌ وَمُمْتَحَنٌ فَلَا
تَعْجَبْ
فَهَذِيْ سُنَّةُ الرَّحْمَانِ
“Kebenaran itu akan selalu menang dan mendapat ujian, maka
janganlah
heran, sebab ini adalah sunnah Ar-Rahman
(sunnatullah).”
[Al-Kâfiyah Asy-Syâfiyah 1/52 (Syarah Syaikh Shalih
Al-Fauzan)]
Cara Mengenal Pendusta
Harun bin Sufyân Al-Mustamly bertanya kepada
Imam Ahmad, “Bagaimana cara engkau mengetahui para pendusta?” Imam Ahmad
menjawab, “Dengan (melihat) janji-janji mereka.”
[Dirwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil dan
As-Sam’âny dalam Adabul Imlâ`]
Juallah Dia, Walaupun Hanya dengan Harga
Segenggam Debu
Muhammad bin Abdillah Al-Baghdâdy bersenandung,
إِذَا
مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ … فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ
سَلَامَةُ
صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ … وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ
“Apabila seorang kehilangan
tiga (sifat),
Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.
(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran jiwa,
dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.”
[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 53]
Mengukur Keikhlasan
Muhammad bin Abdawaih berkata, Saya mendengar
Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata,
تَرْكُ
الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ
وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ عَنْهُمَا
“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya`, dan beramal
karena manusia adalah kesyirikan. Ikhlas adalah Allah menyelamatkan engkau dari
dua perkara tersebut.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu Asâkir,
sebagaimana dalam kitab Al-Âtsâr Al-Wâridah ‘Anil Aimmah fi Abwâbil I’tiqâd
1/159]
Hakikat Kehidupan Hamba
Al-Marrudzy berkata, “Suatu hari aku masuk
menjumpai (Imam) Ahmad, lalu saya bertanya, ‘Bagaimana engkau di pagi ini?’
Beliau menjawab, ‘Aku masuk di waktu pagi dalam keadaan Rabbku menuntut
(diriku) untuk menunaikan kewajiban, Nabi-Nya menuntutnya untuk menunaikan
sunnah, dua malaikat menuntutnya untuk memperbaiki amalan, jiwanya menuntut
(mengikuti) hawa nafsu, Iblis menuntutnya untuk kekejian, Malakul Maut menuntut
nyawanya, dan keluarganya menuntut nafkah.’.”
[Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’lâ
1/570, dengan perantara kitab Kasykûl karya guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ibnu
Aqil]
Sumber: Dzulqarnain.Net